Tanggal 30 Maret 2010  sekitar pukul 1 siang Geneva (6 sore Jakarta), tim operasional CERN LHC berhasil menumbukkan proton-proton pada energi 7 TeV untuk pertama kalinya. Siaran pers dari CERN bisa dilihat dibawah ini.

http://press.web.cern.ch/press/PressReleases/Releases2010/PR07.10E.html

Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba, kini saatnya untuk mulai melihat dan menganalisis data … eksperimen LHC akan berjalan selama 10-20-30 tahun sehingga rekan-rekan muda yang membaca posting ini dapat berpartisipasi kelak di masa depan.

Berita ini disampaikan melalui siaran pers Humas CERN tanngal 23 Maret 2010 :

http://press.web.cern.ch/press/PressReleases/Releases2010/PR06.10E.html

Ringkasan: CERN telah mengumumkan bahwa pada tanggal 30 Maret LHC akan
mencoba untuk menumbukkan berkas partikel pada energi total 7 TeV pada tanggal
30 Maret 2010. Media-media massa besar dari seluruh penjuru dunia telah
merencanakan liputan langsung acara ini.

Direncanakan akan diselenggarakan webcast langsung dari lokasi CERN di Geneva.

http://webcast.cern.ch/lhcfirstphysics/
http://press.web.cern.ch/press/lhc-first-physics/schedule/webcast/

CMS juga akan berpartisipasi, perhatikan situs berikut ini:

http://cms.web.cern.ch/cms/News/2010/7TeVCollisions.html

Tanggal 3 Februari CERN mengumumkan secara resmi rencana pengoperasian LHC untuk tahun 2010-2011.  LHC akan dijalankan secara terus menerus selama 18 hingga 24 bulan pada energi 7 = 3.5 + 3.5 TeV. Kemudian LHC akan memasuki tahap istirahat panjang (diperkirakan sekitar 1 tahun) untuk memperbaiki dan mempersiapkan LHC untuk beroperasi pada energi 14 = 7 + 7 TeV.

Terdapat beberapa pertimbangan teknis, logistik, maupun prospek masa depan riset yang mendasari keputusan ini. Penjelasan lengkap dapat dilihat pada slide dalam presentasi dari manajemen CERN kepada warga CERN tanggal 5 Februari lalu.

http://indico.cern.ch/conferenceDisplay.py?confId=83135

Keputusan ini memiliki beberapa arti:

- Masa pengoperasian yang panjang memberi kesempatan bagi eksperimen LHC (ALICE, ATLAS, CMS, LHCb) untuk mempelajari dan melakukan kalibrasi detektor.

- Jangkauan / kemampuan LHC untuk membuktikan keberadaan/ketidakberadaan Higgs menurun dibandingka jika LHC beroperasi pada 7+7 TeV. Demikian pula dengan pencarian partikel baru seperti dimensi ekstra, supersymmetry, dan lain-lain.

- Data dari masa pengoperasian yang panjang ini akan cukup untuk ratusan disertasi, paper, dan analisis  dengan berbagai topik. Analisis data fisika partikel eksperimen membutuhkan waktu sangat lama, antara beberapa bulan hingga bertahun-tahun. Sebagai contoh, hingga tahun 2010 masih ada paper baru diterbitkan dari eksperimen terkait akselerator LEP di CERN yang resmi ditutup pada tahun 2000! Meskipun LHC masuk ke dalam masa istirahat panjang setelah 2010-2011, tidak berarti fisikawan LHC akan berhenti melakuan penelitian. Analisis data akan dimulai semenjak hari pertama data direkam, dan akan terus berlangsung hingga lama setelah pengambilan data berakhir.

- Dan tentunya .. masa-masa 18 hingga 24 bulan mendatang akan merupakan salah satu masa paling sibuk, berat, dan penuh tantangan.   Tidak hanya bagi saya, tapi bagi seluruh anggota masyarakat LHC, baik di CERN maupun seluruh dunia!

Tahun 2010 akan menjadi tahun awal dari masa berlangsungnya eksperimen fisika di CERN LHC, sebuah masa yang diperkirakan berjalan paling tidak 10-15 tahun bahkan bisa hingga 20 atau 30 tahun. Masa-masa dimana penemuan-penemuan besar dalam fisika partikel akan terjadi. I’m looking forward to be part of those times when discoveries and histories in physics are being made.

Pada bagian kedua dari seri tulisan ini, saya akan memberikan contoh nyata tentang perbedaan antara mempelajari sains dan menekuni sains. Contoh ini menurut saya sederhana dan bisa dicerna banyak orang, namun memberikan ilustrasi yang sangat tepat dengan perbedaan antara mempelajari sains dan menekuni sains.

Problem yang dihadapi atau ilmu yang dikuasai adalah Bahasa Inggris. Sebagian pembaca artikel ini saya yakin tahu Bahasa Inggris meski tingkat penguasaannya berbeda-beda.

Situasi pertama:

A adalah seorang Indonesia yang tidak menguasai Bahasa Inggris. Kemudian A memutuskan untuk mempelajari Bahasa Inggris dengan mengikuti kursus Bahasa Inggris.
  • A menghadiri kuliah yang diberikan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, tentang Bahasa Inggris.
  • A memiliki akses dan dibolehkan membaca buku tentang aturan tatabahasa Bahasa Inggris (English grammar) dalam edisi dwibahasa (yakni menjelaskan tatabahasa Bahasa Inggris dalam Bahasa Indonesia). A juga dibolehkan membaca kamus Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia dan kamus Bahasa Indonesia-Bahasa Inggris.
  • A dibolehkan membaca buku dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dalam bidang ilmu selain Bahasa Inggris (sejarah, matematika, politik, komputer, antropologi, dll).
  • A dibolehkan untuk berbicara dengan orang-orang yang menguasai Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, dan dibolehkan bertanya kepada orang-orang tersebut tentang Bahasa Inggris dan bidang ilmu selain Bahasa Inggris.
  • A dibolehkan menonton film/televisi, mendengarkan radio/musik/CD dalam Bahasa Inggris.
  • A dibolehkan mengamati kegiatan orang-orang yang berbahasa Inggris disekitarnya, dan membandingkan pembicaraan mereka dengan perilaku mereka.

Situasi Kedua:

B adalah seorang Indonesia yang tidak menguasai Bahasa Inggris. Sekarang B ditempatkan di sebuah negara yang berbahasa Inggris.

  • B hanya dibolehkan berbicara kepada orang-orang di negara tersebut dalam Bahasa Inggris dan tidak dengan bahasa lain (termasuk bahasa isyarat/tarzan, jadi misalnya B tidak boleh menunjuk suatu benda dan menanyakan apa kata Bahasa Inggris untuk benda tersebut).
  • B tidak memiliki akses dan tidak dibolehkan membaca buku tentang aturan tatabahasa Bahasa Inggris (English grammar) dalam edisi dwibahasa (yakni menjelaskan tatabahasa Bahasa Inggris dalam Bahasa Indonesia). B tidak dibolehkan membaca kamus Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia dan kamus Bahasa Indonesia-Bahasa Inggris. B hanya dibolehkan membaca buku English grammar dalam Bahasa Inggris dan kamus Bahasa Inggris yang juga menggunakan Bahasa Inggris.
  • B dibolehkan membaca buku dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dalam bidang ilmu selain Bahasa Inggris (sejarah, matematika, politik, komputer, antropologi, dll).
  • B dibolehkan untuk berbicara dengan orang-orang yang menguasai Bahasa Inggris saja, atau orang-orang yang menguasai Bahasa Indonesia saja, dan dibolehkan bertanya kepada orang-orang tersebut hanya tentang bidang ilmu selain Bahasa Inggris.
  • B dibolehkan menonton film/televisi, mendengarkan radio/musik/CD dalam Bahasa Inggris.
  • B dibolehkan mengamati kegiatan orang-orang yang berbahasa Inggris disekitarnya, dan membandingkan pembicaraan mereka dengan perilaku mereka.
Permasalahan yang dihadapi A dan B adalah sama:
Mendapatkan pengetahuan lengkap tentang Bahasa Inggris baik dari segi tatabahasa, kosa kata, pengucapan, dan lain sebagainya.
Sekarang renungkan sejenak. Menurut saya: A jelas berada pada situasi yang lebih mudah. B berada pada situasi yang lebih sulit, dan perbedaan kesulitan yang dihadapi B dibandingkan A adalah bagaikan perbedaan langit dan bumi. Situasi pertama yang dihadapi A adalah analog dengan mempelajari sains. Situasi kedua yang dihadapi B analog dengan menekuni sains. Bahkan jika A ditempatkan pada situasi dimana A harus mempelajari bahasa yang relatif lebih sulit dikuasai dari Bahasa Inggris (misalnya Bahasa Rusia, Bahasa Cina, Bahasa Jepang, dll), menurut saya tetap situasi yang dihadapi A relatif lebih mudah dibandingkan situasi yang dihadapi B.
Jika kita sudah melihat situasi B, sekarang apakah yang B bisa lakukan agar dia dapat berhasil menyelesaikan tugasnya untuk menguasai Bahasa Inggris. Jawabannya adalah:
B harus menguasai ilmu dan metode untuk mempelajari bahasa baru yakni ilmu dan metode linguistik (linguistics). Linguistik adalah ilmu yang mengkaji tentang bahasa secara umum, tanpa memandang secara khusus bahasa apa yang dipelajari. Untuk mengetahui lebih jauh tentang linguistics, silakan mengecek artikel Wikipedia (dalam Bahasa Inggris) dibawah ini:
Jika B menguasai linguistik, maka B dapat mengkaji Bahasa Inggris yang digunakan orang-orang disekitarnya dengan sistematik dan menggunakan metode linguistik yang telah teruji. B kemudian dapat merumuskan aturan tatabahasa Bahasa Inggris, aturan pengucapan kata-kata dalam Bahasa Inggris, kamus dan kosakata Bahasa Inggris, dan lain-lain.
Jika B tidak menguasai linguistik, maka B bisa saja mencoba-coba berbagai pendekatan untuk mencapai tujuannya, namun jelas bahwa B akan menemui kesulitan yang lebih besar dibandingkan jika B telah menguasai ilmu linguistik dan menggunakan metode linguistik. Bisa jadi bahwa pada akhirnya B akan menemukan ilmu dan metode linguistik itu sendiri sebelum dia menerapkan ilmu dan metode linguistik tersebut pada permasalhan untuk menguasai Bahasa Inggris! Sekarang problem B telah berlipat ganda: Dia tidak hanya harus menemukan dan menguasai Bahasa Inggris, namun dia juga harus menemukan dan menciptakan ilmu dan metode linguistik.

Jadi dari diskusi di atas disimpulkan bahwa B sebaiknya telah menguasai linguistik sebelum ditempatkan di negara asing tersebut. Jika B belum menguasai linguistik dan telah ditempatkan di negara asing tersebut, B sebaiknya mempelajari linguistik, sambil menerapkan ilmu dan metode linguistik yang tengah dipelajarinya untuk mempelajari Bahasa Inggris dari orang-orang di sekitarnya.
Kemudian, bahkan jika B telah menguasai linguistik, masih ada banyak masalah yang muncul dalam usaha B untuk mempelajari Bahasa Inggris:
  • Tidak semua orang menggunakan Bahasa Inggris dengan tatabahasa yang baku dan benar. B mungkin akan bingung jika dia mendengar dua kelompok menggunakan ekspresi yang berbeda untuk maksud yang sama. Kalangan yang menggunakan Bahasa Inggris baku berkata “I want to go to school“, sementara kalangan yang menggunakan Bahasa Inggris yang tidak baku berkata “I wanna go to school“. Bagi orang yang tidak tahu, sulit untuk menentukan mana diantara kedua bentuk ini yang benar.
  • B yang latar belakangnya adalah Bahasa Indonesia, tidak mengetahui beberapa karakteristik khusus Bahasa Inggris yang tidak ditemui dalam teori linguistik Bahasa Indonesia seperti: Bahasa Indonesia menggunakan pola DM (Diterangkan-Menerangkan, misalnya meja bundar), namun Bahasa Inggris menggunakan pola MD (Menerangkan-Diterangkan, misalnya round table). Bahasa Indonesia tidak mengenal gender untuk kata ganti orang ketiga (dia dalam Bahasa Indonesia bisa digunakan untuk laki-laki atau perempuan, sementara dalam Bahasa Inggris she digunakan untuk perempuan dan he digunakan untuk laki-laki). Bahasa Indonesia menggunakan banyak sekali awalan, imbuhan, dan akhiran, sementara Bahasa Inggris tidak. Jika B tidak segera menyadari adanya kemungkinan perbedaan semacam ini, sangat mungkin sekali B akan tersangkut dan menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk memahami hal yang sekilas tampak mudah dan sepele seperti perbedaan antara MD dan DM.
  • Kemudian B sekali lagi yang latar belakangnya Bahasa Indonesia, belum tentu menyadari adanya perbedaan antara penulisan dan pengucapan dalam Bahasa Inggris. Kasus sederhana mengapa kata Bahasa Inggris “run” dibaca “ran”, sementara kata Bahasa Inggris “put” dibaca “put”, bisa jadi sangat membingungkan.
Dari situasi dan persoalan yang dihadapi A dan B, kita bisa menarik beberapa ciri-ciri:
  1. Situasi yang dihadapi B secara umum jauh lebih sulit dari situasi yang dihadapi oleh A.
  2. Yang dapat dilakukan oleh B sebelum memulai tugasnya adalah mempersiapkan dan membekali diri dengan ilmu dan metode untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.
  3. B akan menghadapi berbagai situasi dan perbedaan antara Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, yang meski nampak mudah/trivial bagi mereka yang sudah mengetahui, akan nampak sulit/non-trivial bagi B yang sama sekali tidak mengetahui tentang Bahasa Inggris.
Ciri-ciri situasi yang dihadapi B, merupakan salah satu bentuk nyata dari ciri-ciri umum pekerjaan menekuni sains, namun sudah dikhususkan hanya untuk kasus mempelajari Bahasa Inggris. Masih ada beberapa contoh situasi lain yang akan saya jelaskan dalam seri tulisan ini.

Kurangnya kegiatan dalam pembelajaran sains maupun penelitian sains di Indonesia, kelihatannya menyebabkan sangat sedikit orang yang menyadari bahwa ada perbedaan besar antara ‘Belajar Sains’ (Learning Science) dan ‘Menekuni Sains’ (Doing Science). Bahkan tidak semua orang saintis senior di Indonesia menyadari perbedaan ini. Atau kalaupun ada yang menyadari, tidak semuanya dengan terbuka berbicara dengan calon saintis muda tentang perbedaan ini. Mungkin karena keterbatasan waktu, kesibukan lain, atau alasan sendiri-sendiri.

Menurut saya perbedaan ini sangat penting untuk diketahui para kaum muda yang tengah mempertimbangkan untuk menekuni sains ataupun yang sudah menekuninya. Disini saya mendefinisikan ‘sains’ secara luas sebagai ilmu, baik itu ilmu dasar, ilmu kesehatan, ilmu rekayasa, ilmu sosial, ilmu budaya, dan lain-lain.

Perbedaan ini dapat dinyatakan sebagai berikut:

Dalam belajar sains (learning science), tujuan utama adalah penguasaan pengetahuan yang sudah ada.

Dalam menekuni sains (doing science), tujuan utama adalah menghasilkan pengetahuan baru sebagai tambahan kepada pengetahuan yang sudah ada.

Anda mungkin sudah pernah membaca atau mendengar variasi dari pernyataan di atas. Namun pada umumnya anda belum mendengar dengan detail bagaimana sebenarnya bentuk nyata dari pernyataan di atas tersebut. Kedua proses di atas saling terlibat, dimana seseorang yang tengah menekuni sains selalu telah, atau tengah mempelajari sains. Lebih lanjut, pada umumnya orang yang sukses dalam menekuni sains, juga selalu sukses dalam mempelajari sains, namun relasi yang sama tidak berlaku ke arah yang berlawanan: Belum tentu orang yang sukses dalam mempelajari sains akan sukses dalam menekuni sains. Jadi mempelajari sains adalah prasyarat untuk menekuni sains, namun bukan merupakan satu-satunya prasyarat.

Jika saat ini anda masih mahasiswa program sarjana atau magister yang tengah menjalani perkuliahan, berkutat dengan pekerjaan rumah + laporan praktikum + karya tulis + laporan kerja praktek + tugas tugas lain yang banyak, anda berada pada tahapan mempelajari sains (learning science). Sesulit dan sebanyak apa pun tugas yang anda kerjakan, anda tahu bahwa terdapat penyelesaian dan jawaban di belakang tugas-tugas perkuliahan.

Namun untuk anda yang tengah melakuan penelitian untuk menyelesaikan atau menjawab sebuah persoalan, maka anda berada pada tahapan menekuni sains (doing science). Pada tahapan ini, umumnya satu atau lebih dari point-point dibawah ini berlaku:

  • Tidak ada jaminan bahwa persoalan yang dihadapi memiliki penyelesaian.
  • Jika persoalan yang dihadapi memiliki penyelesaian, tidak ada seorang pun yang mengetahui penyelesaian di belakang persoalan yang dihadapi. Bahkan tidak seorang doktor, profesor, ataupun pemenang Hadiah Nobel.
  • Tidak ada jaminan bahwa cara atau teknik atau pendekatan yang dipakai untuk menyelesaikan persoalan tersebut adalah cara/teknik/pendekatan yang paling optimal.
  • Dalam sangat banyak kasus, penyelesaian untuk persoalan yang dihadapi memerlukan kerja yang melelahkan, tampak sangat membosankan dan tidak menarik, namun harus dilakukan jika ingin mendapatkan penyelesaian.
  • Terkadang, ada orang lain yang tengah menekuni persoalan yang sama, dan orang lain tersebut berhasil menyelesaikan persoalan itu lebih dahulu, dan orang itulah yang mendapat pengakuan sebagai orang pertama yang menyelesaikan persoalan yang ditekuni.
  • Bahkan jika pada akhirnya penyelesaian dari persoalan yang dihadapi berhasil didapatkan, belum tentu penyelesaian tersebut dinilai tinggi. Terlebih sering, penyelesaian tersebut menuntut pekerjaan lebih lanjut dan lebih dalam.

Kalau sudah membaca point-point tentang menekuni sains, mungkin ada yang berpikir “Wow. Kalau begitu menekuni sains merupakan kegiatan yang sangat berat dan menantang.” Memang betul! It is a very demanding and challenging activity. Banyak saintis senior kurang menekankan dan mengajarkan kepada calon saintis muda betapa beratnya kegiatan sains tersebut. Meski berat dan menantang, ada langkah-langkah persiapan yang bisa dilakukan calon saintis muda selama tahapan mempelajari sains agar mereka lebih siap dalam menekuni sains. Langkah-langkah persiapan tersebut sebenarnya tidak sangat sulit, dan (menurut saya) bisa dilakukan di Indonesia.

Sayangnya, sekali lagi, tidak terlalu banyak saintis senior yang mau bercerita kepada dan membimbing calon saintis muda tentang langkah-langkah tersebut. Yang sering saya lihat baik di Indonesia dan mancanegara adalah para saintis senior yang terlalu bergairah mengundang kalangan muda untuk menekuni sains, namun kurang memberikan bimbingan dan gambaran yang jujur tentang situasi yang sebenarnya tentang menekuni sains. Yang terjadi adalah: Ada banyak kalangan muda yang berbondong-bondong masuk ke program pascasarjana master dan doktor, namun kebanyakan dari mereka tidak siap dan menghadapi banyak masalah selama program pascasarjananya. Kabar mengenai masalah dalam program pascasarjana ini kemudian ditafsirkan secara negatif menjadi: studi pascasarjana sains sangat berat dan susah, sehingga akhirnya orang menjadi tidak tertarik untuk menekuni sains. Keadaan akhirnya pada akhirnya merupakan titik keseimbangan antara faktor positif dari antusiasme, promosi, dan undangan untuk menekuni sains, dan faktor negatif karena kurangnya bimbingan saintis senior kepada calon saintis muda tentang situasi sebenarnya dalam menekuni sains. Menurut saya, jika faktor negatif dapat dikurangi dengan meningkatkan bimbingan dan memberikan pandangan yang jujur kepada calon saintis muda tentang menekuni sains, kondisi akhirnya adalah calon saintis muda lebih siap untuk masuk ke dalam program pascasarjana dan menekuni sains. Mereka juga akan menjadi lebih produktif dan efektif selama masa belajar di program pascasarjana, sehingga bisa diharapkan untuk menghasilkan lebih banyak karya sains.

Mungkin ada juga yang sudah membaca namun masih belum yakin atau mengerti, saya akan memberikan beberapa contoh dan analogi untuk membandingkan antara mempelajari sains dan menekuni sains.  Mengenai langkah-langkah persiapan calon saintis muda untuk menekuni sains, dan contoh untuk membandingkan antara mempelajari sains dan menekuni sains, akan dibahas pada bagian selanjutnya dari seri tulisan ini.

Catatan: Tulisan ini diinspirasi dari sebuah artikel opini “The importance of stupidity in scientific research”, yang dapat diambil dari situs dibawah ini

http://jcs.biologists.org/cgi/content/full/121/11/1771

Di CERN, hari kerja resmi dimulai pada tanggal 4 Januari lalu.  Meski pada prakteknya — pegawai CERN banyak yang masih cuti (resmi).  Sementara itu fisikawan dengan status peneliti tamu (visitor) seperti saya, banyak yang masih bekerja dari kampusnya masing-masing yang terletak di seluruh penjuru dunia.

Tanggal 11 Januari, Dirjen CERN Profesor Rolf-Dieter Hauer memberikan pidato dan presentasi tahun baru kepada seluruh warga CERN. Rekaman video maupun slide dari presentasi beliau bisa diambil dari situs ini:

http://indico.cern.ch/conferenceDisplay.py?confId=78316

Salah satu hal penting dalam rencana CERN tahun 2010 adalah mengoperasikan LHC untuk menghasilkan data dalam jumlah yang cukup banyak. Cukup disini berarti memberikan peluang bagi LHC untuk melewati Tevatron/Fermilab dalam upaya pencarian Higgs ataupun partikel baru. Menurut saya rencana itu tampak berani dan optimis, karena rencana yang saya dengar tahun lalu yang saya dengar rencana aslinya tidak seoptimis rencana tahun ini. Namun saya sebagai warga CERN tentu mendukung dan gembira dengan rencana tersebut.

Hari Jum’at 15 Januari, Prof. Heuer juga menyampaikan imbauan kepada warga CERN untuk mendonasikan sumbangan kepada upaya dompet kemanusiaan untuk korban gempa bumi di Haiti. Sebuah bank Swiss besar yang memiliki kantor cabang di CERN, UBS AG, telah membuka rekening khusus untuk dompet kemanusiaan untuk Haiti. Marilah kita sama-sama memberikan apa yang bisa kita berikan kepada para korban, dan senantiasa mensyukuri bahwa kita masih berada dalam kondisi dan situasi yang jauh lebih baik.

Kalau anda pernah melihat penggaris yang dipakai di sekolah dasar dan menengah, kemungkinan besar penggaris itu panjangnya 30 sentimeter. Tigapuluh sentimeter itu lebih kurang sama dengan 12 inci atau 1 kaki (foot, ini satuan panjang ala Kerajaan Inggris).

Dalam bidang komputer dan elektronika, panjang 30 sentimeter memiliki arti khusus. Arti khusus yang penting dan menjadi pegangan dalam merancang dan membangun rangkaian mikroelektronika dan rangkaian terpadu (integrated circuit, IC).

Tigapuluh sentimeter lebih kurang adalah jarak yang ditempuh oleh gelombang elektromagnetik dalam waktu satu per milyar detik. Perioda satu per milyar detik berkorespondensi dengan frekuensi 1 milyar daur (cycle) per detik (giga hertz, GHz), jadi lebih kurang pada orde/skala yang sama dengan kecepatan komputer saat ini.

Faktor 30 sentimeter menjadi penting dalam merancang sebuah rangkaian elektronika yang beroperasi pada frekuensi GHz. Dalam rangkaian elektronika skala GHz, daur arus listrik dalam rangkaian akan menghasilkan gelombang elektromagnetik yang memiliki panjang pada sekitar skala sentimeter. Jika rangkaian elektronika tersebut berukuran juga pada skala sentimeter, maka insinyur yang merancang rangkaian tersebut harus mempertimbangkan faktor waktu yang diperlukan untuk perambatan gelombang elektromagnetik dalam rangkaian.

Problem serupa, yakni memperhitungkan faktor waktu yang diperlukan untuk perambatan gelombang elektromagnetik, muncul dalam banyak teknologi sehari-hari: radar, telekomunikasi seluler dan satelit, jaringan serat optik (optical fiber), global positioning system, perpetaan, geodesi, dan banyak lagi.

Dalam fisika partikel eksperimen, problem ini muncul ketika fisikawan harus mempertimbangkan waktu tempuh sinyal dalam serat optik dari detektor yang terletak 100 meter di bawah tanah ke komputer yang membaca dan menyimpan data di permukaan tanah. Sebagai contoh, akselerator LHC beroperasi dengan frekuensi 40 MHz atau periode 25 per milyar detik.  Setiap 25 per milyar detik, terjadi beberapa tumbukan/interaksi di dalam detektor. Dengan menggunakan aturan 30 sentimeter, kita tahu bahwa selama 25 per milyar detik, cahaya akan menempuh jarak 7.5 meter. Padahal jarak dari bawah tanah ke permukaan tanah adalah 100 meter lebih! Sebelum sinyal dari detektor mencapai permukaan tanah dan direkam dalam komputer, detektor sudah menerima data kembali! Padahal detektor di bawah tanah pada umumnya memerlukan konfirmasi (handshake)  dengan komputer yang terletak di permukaan: apakah sinyal/informasi yang dikirimkan sudah sampai atau belum. Dengan pertimbangan itu, maka detektor di bawah tanah dirancang untuk menyimpan sementara data-data tumbukan/interaksi partikel dalam sebuah tempat penyimpanan sementara (buffer memory).  Sehingga bila karena suatu sebab kiriman informasi dari bawah tanah ke permukaan terganggu, detektor di bawah tanah akan menerima kabar dari komputer di permukaan bahwa informasi yang dikirim belum diterima, dan bisa dikirimkan kembali.

Kok bicara fisika partikel eksperimen kedengarannya seperti teknik elektro atau instrumentasi! Ini semua karena kebutuhan: untuk membangun alat eksperimen fisika partikel diperlukan kerjsama antara fisikawan dengan insinyur: baik insinyur teknik tenaga listrik, teknik elektronika, teknik mesin, teknik pendinginan, teknik komputer, teknik sipil, dll. Tanpa kerjasama tersebut, tidaklah mungkin alat dan fasilitas eksperimen fisika partikel bisa dibangun.

Catatan: Penggunaan ukuran 30 sentimeter untuk memberikan ilustrasi/gambaran tentang kecepatan cahaya dan jarak yang ditempuh, dipopulerkan oleh Laksamana Pertama  (Commodore/Rear Admiral) Grace Hopper, seorang sesepuh dalam bidang komputer dan informatika.

Seorang mahasiswa fisika tahun pertama di Indonesia mengirimkan sebuah pertanyaan ke saya.  Jawaban atas pertanyaan ini menurut saya sangat penting untuk disebarluaskan kepada khalayak yang lebih luas: tidak hanya dari kalangan perguruan tinggi tetapi juga kepada masyarakat luas, para pemimpin, politikus, dan pengambil kebijakan; maka saya putuskan untuk menuliskan pertanyaan dan jawabannya di blog saya. Jawaban ini akhirnya menjadi sebuah artikel sendiri yang panjang, jadi mohon bersabar dalam membacanya.

Pertanyaannya adalah:

Salam,

Kak, saya mahasiswa fisika tahun pertama. yang ingin saya tanyakan adalah, buat apa kita meriset fisika partikel? apa sih sumbangannya buat negara atau kehidupan masyarakat? fisika partikel itu kan nanti hasilnya bakal hanya persamaan2 yang tidak aplikatif di kehidupan. kenapa kita tidak meriset fisika yang membumi saya seperti yang aplikatif misalnya yang berhubungan kesehatan, prtanian, atau industri? kn manfaatnya lebih banyak.

trus motivasi Kak Haryo meriset fisika partikel apa ya? maksud saya esensi riset fisika partikel itu apa ?
tolong dijawab ya kak, maaf jika pertanyaan saya terlalu bodoh (hehe..). tapi saya bertanya begitu karena saya mempersiapkan ke mana arah fisika saya nantinya.

terima kasih banyak.

Pertama-tama saya harus meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.  Dari kalimat ini

fisika partikel itu kan nanti hasilnya bakal hanya persamaan2 yang tidak aplikatif di kehidupan.

Fisika partikel tidak hanya menghasilkan persamaan-persamaan. Fisika adalah ilmu yang mengkaji tentang alam. Konsep/persamaan fisika baru diakui kesahihannya jika telah dikonfirmasi/dibuktikan dengan eksperimen, bahwa konsep/persamaan tersebut sesuai dengan alam. Kesalahpahaman ini timbul karena di Indonesia tidak ada kegiatan fisika partikel eksperimen. Yang ada adalah kegiatan fisika partikel teoretik. Namun di negara-negara maju terdapat sangat banyak fisikawan partikel eksperimen. Hasil-hasil dari eksperimen fisika partikel adalah konfirmasi persamaan/teori-teori fisika partikel dan teknologi yang tidak hanya berguna untuk kegiatan penelitian fisika partikel, namun juga bagi kehidupan sehari-hari. Saya akan bahas teknologi hasil fisika partikel eksperimen ini kemudian.

Kemudian

apa sih sumbangannya buat negara atau kehidupan masyarakat? fisika partikel itu kan nanti hasilnya bakal hanya persamaan2 yang tidak aplikatif di kehidupan. kenapa kita tidak meriset fisika yang membumi saya seperti yang aplikatif misalnya yang berhubungan kesehatan, prtanian, atau industri? kn manfaatnya lebih banyak.

Tidak aplikatif merupakan penghakiman yang terlalu dini. Persamaan-persamaan, betapapun rumit dan abstrak, merupakan penggambaran/deskripsi tentang alam di sekitar kitaPengetahuan tentang bagaimana alam di sekitar kita merupakan kekuatan. Knowledge is power. Sejarah menunjukkan bahwa penemuan-penemuan terdepan dalam fisika selalu memiliki dampak dan pengaruh yang positif dalam jangka panjang. Pelajaran dari sejarah ini diketahui dan disadari benar-benar oleh politikus dan para pemimpin bangsa di negara-negara maju, sehingga mereka tetap bersedia mendanai penelitian dalam bidang fisika partikel.

Ketika James Clerk Maxwell merumuskan persamaan-persamaan tentang listrik dan magnet lebih dari seratus tahun yang lalu, tidak ada satu pun orang di jaman tersebut yang menduga bahwa listrik dan magnet akan berperan sangat penting di masa depan. Jaman sekarang kita menggunakan listrik untuk penerangan, mendengarkan radio, menonton televisi, memakai internet dengan wireless/Wi-Fi. Kita menerima semua kenikmatan tersebut, namun hanya sedikit yang tahu bahwa semua kenikmatan jaman modern sekarang berawal dari kerja keras Maxwell tentang listrik magnet, yang berpuncak pada empat persamaan matematika tentang listrik dan magnet. Persamaan-persamaan yang nampaknya abstrak dan rumit, namun mendasari seluruh teknologi modern yang menggunakan listrik magnet.

Teori Relativitas Umum (General Relativity/GR) karya Albert Einstein merupakan salah satu teori fisika yang sangat rumit, formulasi matematikanya sangat abstrak, dan bahkan tidak dipelajari pada tingkat sarjana fisika. Hingga paruh kedua abad 20 bahkan hanya digunakan dalam bidang kosmologi. Tampaknya tidak ada aplikasi dari GR yang membumi dan aplikatif. Namun teknologi Global Positioning System (GPS) memerlukan persamaan-persamaan GR agar perhitungan navigasi di permukaan bumi dapat diperhitungkan dengan akurat. Jadi kalau orang naik mobil atau pesawat terbang yang memiliki GPS yang dapat menunjukkan posisi mobil/pesawat dengan ketelitian beberapa meter, itu semua karena GPS menggunakan Teori Relativitas Umum Einstein dalam perhitungannya. Artikel ini (dalam bahasa Inggris) menjelaskan penerapan General Relativity dalam teknologi Global Positioning System:

http://relativity.livingreviews.org/Articles/lrr-2003-1/

Ini hanyalah dua contoh dari banyak contoh lain dari sejarah. Memang suatu konsep terbaru dalam fisika akan selalu tampak abstrak dan jauh dari kenyataan. Namun itu semua beralasan: mereka merupakan sesuatu yang sangat baru sehingga tidak ada satu orang pun di dunia yang tahu apa kegunaannya! Dengan demikian tidak layak dan terlalu dini untuk menghakimi dengan menjatuhkan vonis ‘tidak aplikatif’. Seiring dengan berjalannya waktu, perlahan-lahan satu demi satu aplikasi dan kegunaaan dari konsep-konsep tersebut muncul. Jangka waktu dari penemuan konsep baru fisika hingga aplikasi teknologi bisa sangat lama, dan tidak ada yang bisa memprediksi jangka waktu ini. Saya setuju bahwa kondisi ekonomi, sosial, dan iptek sebuah negara menentukan prioritas bidang-bidang mana yang harus dikaji dan dikembangkan. Namun mencoba menerapkan “satu pandangan yang berlaku global” untuk kasus ini adalah tidak tepat. Indonesia sendiri menurut saya belum waktunya membangun sebuah akselerator seperti di CERN atau eksperimen fisika besar seperti CMS. Tapi kalau prioritas sebuah negara diterjemahkan menjadi pembatasan hak individu untuk mempelajari atau melakukan sesuatu yang mereka sukai .. hal ini menurut saya berlebihan.

Singkat kata: Fisika partikel pada saat ini berada pada posisi yang sama dengan persamaan Maxwell 150 tahun yang lalu atau mekanika kuantum 80 tahun yang lalu. Sesuatu yang sangat baru, sangat abstrak, dan tidak seorang pun tahu berapa besar potensi sebenarnya. Kita para fisikawan berpegang pada pelajaran sejarah bahwa kelak di masa depan akan muncul aplikasi dan kegunaan fisika partikel yang saat ini tidak terduga dan terpikirkan oleh kita !

Sekarang jawaban pertanyaannya:

buat apa kita meriset fisika partikel? apa sih sumbangannya buat negara atau kehidupan masyarakat?

Ada dua hasil dari fisika partikel. Pertama adalah jelas: pengetahuan tentang alam.Yang ini sudah jelas, dan tidak akan saya bahas. Yang kedua adalah: teknologi yang diperlukan untuk riset fisika partikel eksperimen, ternyata dapat diterapkan di masyarakat luas. Saya akan membahas yang kedua, karena yang kedua ini kurang/tidak dikenal di Indonesia yang tidak memiliki riset fisika partikel eksperimen.

Dalam riset fisika partikel eksperimen, pada kenyataanya diperlukan banyak sekali terobosan-terobosan (breakthrough) dan teknologi-teknologi baru. Banyak penelitian untuk mencapai terobosan dan menciptakan teknologi itu sangat mahal dan tidak menguntungkan jika dilakukan dari segi industri/bisnis. Sehingga dalam sejarah, yang terjadi adalah: Fisikawan partikel eksperimen melakukan penelitian untuk terobosan dan teknologi tersebut, dan hasil-hasilnya kemudian dipatenkan dan diaplikasikan dalam industri. Beberapa contoh teknologi dan terobosan tersebut adalah:

  1. Teknologi magnet superkonduktor. Dalam eksperimen fisika partikel, diperlukan medan magnet yang sangat kuat, sebesar beberapa Tesla yang harus beroperasi pada jangka waktu lama. Tidaklah mungkin mencapai medan magnet sebesar itu dengan elektromagnet biasa: energi yang didisipasi dalam kumparan kawat elektromagnet solenoid atau toroid akan sangat besar sehingga kawat elektromagnet akan meleleh. Sehingga diperlukan magnet yang beroperasi pada kondisi superkonduktor. Fisikawan partikel eksperimen melakukan penelitian dan pengembangan teknologi magnet superkonduktor, namun teknologi magnet superkonduktor yang dihasilkan tidak hanya digunakan oleh fisika partikel. Teknologi magnet superkonduktor merupakan komponen utama dalam alat pencitraan resonansi magnet (MRI = magnetic resonance imaging) yang sekarang banyak terdapat di rumah sakit modern. Tanpa tersedianya teknologi magnet superkonduktor yang murah dan handal, sulit dibayangkan teknologi MRI bisa tersedia secara massal dan murah.
  2. Teknologi pencitraan medis dengan positron (Positron Emission Tomography). Positron merupakan antipartikel dari elektron, dan keberadaan positron diprediksi dari teori-teori fisika partikel pada awal abad ke-20. Aplikasi positron adalah dalam pencitraan medis: Sebuah positron yang bertemu dengan elektron akan saling menghilangkan (anihilasi). Dalam teknologi PET, isotop nuklir yang meluruh dengan memancarkan positron diinjeksikan ke dalam tubuh pasien. Positron yang dipancarkan oleh isotop akan bertemu dengan elektron (yang praktis terdapat dimana-mana) dan akan saling teranihilasi menjadi dua foton (partikel kuantum cahaya) dengan energi masing-masing 511 MeV. Sinyal berupa dua foton dengan energi yang akurat pada 511 MeV merupakan sinyal yang unik dan dapat dideteksi oleh detektor.Hasil deteksi kemudian diolah dengan teknologi pencitraan untuk mendiagnosa lokasi dan ukuran jaringan kanker dalam tubuh pasien.
  3. Teknologi terapi kanker dengan hadron. Hadron merupakan salah satu klasifikasi partikel, dan saat ini teknologi terapi medis dengan menggunakan hadron (proton, antiproton, dan inti atom karbon) sudah mulai dikembangkan. Teknologi terapi ini memerlukan sumber hadron yang dapat dikontrol dengan akurat, dan teknologi untuk sumber hadron tersebut tersedia dari teknologi fisika partikel eksperimen.
  4. Teknologi akselerator / pemercepat partikel. Akselerator digunakan tidak hanya untuk eksperimen fisika partikel, namun juga untuk terapi medis, dan industri. Untuk terapi medis dengan proton atau antiproton, akselerator digunakan untuk mempercepat proton untuk memproduksi berkas proton berenergi tinggi untuk terapi kanker. Akselerator juga digunakan untuk memproduksi sinar X energi tinggi dan radiasi sinkroton (light source). Sinar X energi tinggi dan radiasi sinkroton digunakan untuk studi struktur material, mikroelektronika, teknologi nano, dan struktur DNA/protein. Akselerator juga merupakan komponen kunci untuk teknologi terapi dengan hadron yang dibahas sebelumnya. Beberapa laboratorium fisika partikel saat ini seperti Fermilab dan DESY sudah memiliki unit kerja untuk terapi kanker dengan menggunakan teknologi dan keahlian dari fisika partikel eksperimen.
  5. Teknologi detektor partikel elementer untuk pencitraan medis. Detektor fisika partikel pada dasarnya adalah detektor radiasi/foton. Di CERN dan Fermilab, pusat penelitian fisika partikel tempat saya bekerja, ada beberapa laboratorium yang khusus meneliti dan menerapkan teknologi detektor partikel untuk fisika medis dan pencitraan medis. Salah satu lembaga internasional yang aktif mengembangkan teknologi ini adalah Tera Foundation (http://www.tera.it/ise.cgi) yang didirikan oleh fisikawan-fisikawan dari CERN, dan memiliki kerja sama yang sangat aktif dengan CERN.
  6. Teknologi komputasi grid. Pemrosesan data fisika partikel eksperimen memerlukan sumber daya komputer yang sangat besar. Untuk memenuhi tantangan ini, fisikawan partikel eksperimen dan ilmuwan bidang informatika/ilmu komputer bekerja sama mengembangkan teknologi komputasi grid. Komputasi grid adalah teknik komputasi yang menggunakan banyak sekali komputer yang terdistribusi di seluruh pelosok dunia dan terhubung melalui jaringan Internet. Teknologi komputasi grid ini juga berkembang dan digunakan untuk aplikasi-aplikasi lain seperti simulasi ramalan cuaca, perhitungan struktur dan dinamika pesawat terbang, maupun simulasi proses-proses dalam DNA.
  7. Dan jika artikel ini dibaca melalui koneksi Internet, ingatlah bahwa protokol dan teknologi awal Internet diciptakan di CERN, pusat penelitian fisika partikel terbesar di dunia. Internet muncul dari kebutuhan para fisikawan dari seluruh dunia untuk membagi dan menyebarkan informasi. CERN kemudian merelakan Internet menjadi teknologi terbuka, dan siapa saja dapat menggunakan teknologi Internet tanpa membayar royalti kepada CERN. Hal ini menurut saya sangat penting: tanpa kerelaan CERN untuk membebaskan teknologi Internet, saya yakin perkembangan Internet tidak akan secepat ini.

Dari segi ekonomi, politik, dan budaya pun penelitian fisika partikel eksperimen memberikan manfaat:

  1. Industri. Dalam membuat peralatan fisika partikel eksperimen, sangat sering fisikawan memerlukan kerja sama dengan industri mesin, teknologi informasi, dan elektronika. Fisikawan merancang rangkaian elektronik, sensor, dan instrumen untuk peralatan eksperimen. Rancangan peralatan eksperimen ini yang kemudian dikontrakkan ke industri untuk diproduksi secara massal, karena fasilitas laboratorium elektronika di kampus universitas terlalu kecil untuk membuat produksi massal. Ini berarti memberikan insentif kepada industri elektronika.
  2. Kerjasama internasional. Semua eksperimen fisika partikel di jaman sekarang merupakan kerjasama internasional. Jauh sebelum komunisme runtuh di Eropa Timur, fisikawan dari Blok Barat dan Blok Timur telah menjalin kerja sama aktif tanpa memperhatikan perbedaan ideologi politik. Kerjasama internasional fisika merupakan kerjasama lintas batas yang tidak mengenal perbedaan suku/agama/kebangsaan/ideologi. Fisika merupakan salah satu bidang dimana wakil dari negara-negara yang bersengketa secara politik dapat duduk dan bekerja sama untuk satu tujuan dengan damai.
  3. Ekonomi. Kegiatan penelitian dalam fisika partikel eksperimen memberikan kontribusi kepada ekonomi dan pengusaha lokal. CERN terletak di daerah luar kota Geneva, dimana terdapa beberapa kota kecil. Kota-kota kecil tersebut turut menikmati dampak ekonomi positif dari kegiatan di CERN: para fisikawan tamu yang datang berkunjung tinggal di hotel, berbelanja di toko-toko lokal, membeli jasa dan produk lokal, dan banyak lagi. Dengan 2500 staf tetap dan 10000 staf tamu, CERN merupakan salah satu organisasi utama yang memberikan kontribusi kepada kegiatan ekonomi di kota-kota kecil sekitar Geneva.

Untuk yang ini

trus motivasi Kak Haryo meriset fisika partikel apa ya? maksud saya esensi riset fisika partikel itu apa ?
tolong dijawab ya kak, maaf jika pertanyaan saya terlalu bodoh (hehe..). tapi saya bertanya begitu karena saya mempersiapkan ke mana arah fisika saya nantinya.

Sama seperti banyak fisikawan lain: saya ingin bekerja dan memberi kontribusi ilmiah pada suatu bidang fisika yang saya sukai. Minat saya pada bidang fisika partikel eksperimen timbul setelah membaca artikel di Kompas tahun 1994 yang menceritakan tentang seorang senior saya, alumni Departemen Fisika Universitas Indonesia, yang terlibat dalam penelitian untuk menemukan kuark top, salah satu partikel elementer yang belum ditemukan pada saat itu. Penemuan kuark top merupakan penemuan yang sangat penting dalam sejarah fisika, setara dengan penemuan-penemuan dalam bidang fisika partikel yang telah dianugrahi Hadian Nobel Fisika.  Namun minat saya sebenarnya banyak dan luas, dan tidak terpaku pada fisika partikel saja. Saya masuk grup penelitian fisika partikel eksperimen karena grup fisika partikel / nuklir teoretik waktu itu sudah kebanyakan mahasiswa dan tidak ada jatah beasiswa lagi. Sementara grup fisika partikel eksperimen kekurangan mahasiswa dan tersedia beasiswa.

Alasan lain adalah saya ingin menjadi fisikawan yang berbeda dari apa yang sudah dicapai fisikawan lain asal Indonesia. Jumlah orang asal Indonesia yang berhasil menjadi doktor dalam fisika partikel eksperimen (5 orang) lebih sedikit dari jumlah orang Indonesia yang telah atau sedang menjabat Presiden Indonesia (6 orang). Saat ini saya sudah telah menyelesaikan pendidikan doktoral, namun jalan masih panjang dan berat untuk meraih keberhasilan dalam tahap selanjutnya. Saya juga ingin berpartisipasi dalam salah satu peristiwa penting dalam sejarah fisika. Eksperimen fisika partikel di LHC dipastikan akan menjadi bagian dalam sejarah fisika. Memang nama saya tidak akan muncul dalam buku teks fisika 50 tahun lagi, sama seperti nama banyak prajurit pada Perang Kemerdekaan RI atau nama banyak mahasiswa yang menduduki gedung DPR/MPR pada tahun 1998. Namun saya tetap ingin berpartisipasi dalam sejarah.

Kalau ditanya esensi fisika partikel itu apa … ya sama seperti fisika yang lain. Suatu usaha untuk lebih mengetahui dan mengerti bagaimana alam di sekitar kita bekerja. Dalam bekerja di bidang fisika partikel, kita sering dituntut untuk menggunakan semua pengetahuan fisika yang kita miliki — termasuk dari sub bidang fisika yang lain dan bidang ilmu lain. Latar belakang pendidikan saya adalah fisika nuklir teoretik (sarjana) dan fisika partikel eksperimen (pascasarjana) dalam proses tersebut saya belajar banyak hal-hal lain: matematika, dasar-dasar fisika partikel teoretik, teori relativitas umum, pemrograman komputer berorientasi-obyek, metode statistika dan analisis data, elektronika, instrumentasi, sistem kendali. Mengapa saya harus belajar begitu banyak topik: Alat eksperimen fisika partikel pada dasarnya adalah sensor-sensor, mereka memberikan sinyal-sinyal listrik ketika sebuah partikel lewat. Sinyal-sinyal listrik ini dibaca oleh sistem instrumentasi elektronika, yang kemudian diolah dengan program komputer yang berjalan pada jaringan  komputer grid. Kemudian metode analisis data dan statistika digunakan untuk melakukan pengukuran dan pengujian hipotesa dari teori fisika partikel elementer. Semuanya topik yang ditulis dengan huruf tebal harus dikuasai oleh fisikawan partikel eksperimen.

Dan saya yakin bidang-bidang fisika yang lain juga akan menuntut hal serupa yakni menguasai dan menggabungkan berbagai bidang ilmu. Inilah sebenarnya satu aspek dimana menurut saya pendidikan fisika di Indonesia masih gagal/kurang berhasil, yakni menekankan betapa pentingnya untuk menguasai dasar-dasar dan bagian inti dari fisika sebelum memilih spesialisasi/keahlian. Terlalu sering orang hanya melihat kepada keahlian/spesialisasi fisikanya sendiri hingga melupakan dasar-dasar dan bagian inti fisika. Padahal ketika orang melanjutkan ke tahap berikutnya baik di dunia profesi maupun dunia akademik, pengetahuan dasar-dasar tersebut akan muncul kembali berulang-ulang.

Kalau pun ada satu nasihat untuk para mahasiswa fisika adalah: konsentrasikan dulu untuk menguasai dasar-dasar dan bagian inti dari alat kerja dan konsep fisika. Alat kerja adalah matematika, pemrograman komputer, statistika, teknik eksperimen dan elektronika. Konsep fisika adalah: mekanika, elektromagnetika, termodinamika dan fisika statistik, dan mekanika kuantum. Setelah menguasai dengan benar dasar-dasar ini tidak akan masalah mau melanjutkan kemana saja, tidak hanya fisika namun juga di luar fisika.

Situasi pada beberapa minggu terakhir di CERN benar-benar luar biasa. Baik dari bagian operasi akselerator CERN (BE-OP) maupun eksperimen (ALICE, ATLAS, CMS, dan LHCb) semua orang sibuk 24/7.  Di mailing list dimana situasi terakhir dari lapangan dilaporkan, terjadi intensitas dan lalu-lintas email dengan frekuensi yang sangat tinggi. Semua orang yang tengah kebagian jaga pada umumnya siap dikontak entah dengan hand phone, IM (Skype, Yahoo! Messenger, Goggle chat, etc), atau e-mail.

Situasi semacam ini tidak hanya terjadi di CERN. Di laboratorium-laboratorium di pelosok lain dunia (SLAC dekat San Francisco, USA; Fermilab dekat Chicago, USA; KEK dekat Tokyo, Jepang; DESY dekat Hamburg, Jerman) dan banyak tempat lagi, para fisikawan pun siap siaga dengan cluster-cluster superkomputer di lab-lab tersebut. Data dari CERN akan dikirim langsung ke lab-lab sahabat tersebut untuk diproses, diolah, dianalisis, dan disimpan. Data dari eksperimen-eksperimen di LHC diperkirakan akan mencapai ukuran peta byte per tahun. Ini kalau disimpan dalam CD, tumpukan CD itu tingginya akan mencapai 20 kilometer: empat kali tinggi Puncak Jaya, puncak gunung tertinggi di Indonesia.

Hari Senin pagi CERN mengumumkan bahwa mereka telah berhasil mempercepat proton hingga mencapai energi 1.18 TeV.  Ini berarti sebuah rekor baru karena sebelumnya energi tertinggi yang dicapai adalah 0.98 TeV, yang dipegang oleh akselerator Tevatron di Fermilab.

1 TeV adalah sama dengan satu triliun elektron volt. Sementara 1 elektron-volt sendiri adalah energi yang dimiliki sebuah elektron jika diberi beda tegangan 1 volt (yap, volt yang sama dengan volt di baterai, aki, atau alat listrik rumah tangga).  1 TeV sendirisebenarnya tidak besar: hanya lebih kurang sama dengan energi seekor nyamuk atau lalat yang sedang terbang.  Namun relatif terhadap ukuran dan berat proton yang sangat kecil, energi itu mampu membuat proton melaju dengan kecepatan 99.99.. % dari kecepatan cahaya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.