Perbedaan antara ‘Belajar Sains’ (Learning Science) dan ‘Menekuni Sains’ (Doing Science) – 1

Kurangnya kegiatan dalam pembelajaran sains maupun penelitian sains di Indonesia, kelihatannya menyebabkan sangat sedikit orang yang menyadari bahwa ada perbedaan besar antara ‘Belajar Sains’ (Learning Science) dan ‘Menekuni Sains’ (Doing Science). Bahkan tidak semua orang saintis senior di Indonesia menyadari perbedaan ini. Atau kalaupun ada yang menyadari, tidak semuanya dengan terbuka berbicara dengan calon saintis muda tentang perbedaan ini. Mungkin karena keterbatasan waktu, kesibukan lain, atau alasan sendiri-sendiri.

Menurut saya perbedaan ini sangat penting untuk diketahui para kaum muda yang tengah mempertimbangkan untuk menekuni sains ataupun yang sudah menekuninya. Disini saya mendefinisikan ‘sains’ secara luas sebagai ilmu, baik itu ilmu dasar, ilmu kesehatan, ilmu rekayasa, ilmu sosial, ilmu budaya, dan lain-lain.

Perbedaan ini dapat dinyatakan sebagai berikut:

Dalam belajar sains (learning science), tujuan utama adalah penguasaan pengetahuan yang sudah ada.

Dalam menekuni sains (doing science), tujuan utama adalah menghasilkan pengetahuan baru sebagai tambahan kepada pengetahuan yang sudah ada.

Anda mungkin sudah pernah membaca atau mendengar variasi dari pernyataan di atas. Namun pada umumnya anda belum mendengar dengan detail bagaimana sebenarnya bentuk nyata dari pernyataan di atas tersebut. Kedua proses di atas saling terlibat, dimana seseorang yang tengah menekuni sains selalu telah, atau tengah mempelajari sains. Lebih lanjut, pada umumnya orang yang sukses dalam menekuni sains, juga selalu sukses dalam mempelajari sains, namun relasi yang sama tidak berlaku ke arah yang berlawanan: Belum tentu orang yang sukses dalam mempelajari sains akan sukses dalam menekuni sains. Jadi mempelajari sains adalah prasyarat untuk menekuni sains, namun bukan merupakan satu-satunya prasyarat.

Jika saat ini anda masih mahasiswa program sarjana atau magister yang tengah menjalani perkuliahan, berkutat dengan pekerjaan rumah + laporan praktikum + karya tulis + laporan kerja praktek + tugas tugas lain yang banyak, anda berada pada tahapan mempelajari sains (learning science). Sesulit dan sebanyak apa pun tugas yang anda kerjakan, anda tahu bahwa terdapat penyelesaian dan jawaban di belakang tugas-tugas perkuliahan.

Namun untuk anda yang tengah melakuan penelitian untuk menyelesaikan atau menjawab sebuah persoalan, maka anda berada pada tahapan menekuni sains (doing science). Pada tahapan ini, umumnya satu atau lebih dari point-point dibawah ini berlaku:

  • Tidak ada jaminan bahwa persoalan yang dihadapi memiliki penyelesaian.
  • Jika persoalan yang dihadapi memiliki penyelesaian, tidak ada seorang pun yang mengetahui penyelesaian di belakang persoalan yang dihadapi. Bahkan tidak seorang doktor, profesor, ataupun pemenang Hadiah Nobel.
  • Tidak ada jaminan bahwa cara atau teknik atau pendekatan yang dipakai untuk menyelesaikan persoalan tersebut adalah cara/teknik/pendekatan yang paling optimal.
  • Dalam sangat banyak kasus, penyelesaian untuk persoalan yang dihadapi memerlukan kerja yang melelahkan, tampak sangat membosankan dan tidak menarik, namun harus dilakukan jika ingin mendapatkan penyelesaian.
  • Terkadang, ada orang lain yang tengah menekuni persoalan yang sama, dan orang lain tersebut berhasil menyelesaikan persoalan itu lebih dahulu, dan orang itulah yang mendapat pengakuan sebagai orang pertama yang menyelesaikan persoalan yang ditekuni.
  • Bahkan jika pada akhirnya penyelesaian dari persoalan yang dihadapi berhasil didapatkan, belum tentu penyelesaian tersebut dinilai tinggi. Terlebih sering, penyelesaian tersebut menuntut pekerjaan lebih lanjut dan lebih dalam.

Kalau sudah membaca point-point tentang menekuni sains, mungkin ada yang berpikir “Wow. Kalau begitu menekuni sains merupakan kegiatan yang sangat berat dan menantang.” Memang betul! It is a very demanding and challenging activity. Banyak saintis senior kurang menekankan dan mengajarkan kepada calon saintis muda betapa beratnya kegiatan sains tersebut. Meski berat dan menantang, ada langkah-langkah persiapan yang bisa dilakukan calon saintis muda selama tahapan mempelajari sains agar mereka lebih siap dalam menekuni sains. Langkah-langkah persiapan tersebut sebenarnya tidak sangat sulit, dan (menurut saya) bisa dilakukan di Indonesia.

Sayangnya, sekali lagi, tidak terlalu banyak saintis senior yang mau bercerita kepada dan membimbing calon saintis muda tentang langkah-langkah tersebut. Yang sering saya lihat baik di Indonesia dan mancanegara adalah para saintis senior yang terlalu bergairah mengundang kalangan muda untuk menekuni sains, namun kurang memberikan bimbingan dan gambaran yang jujur tentang situasi yang sebenarnya tentang menekuni sains. Yang terjadi adalah: Ada banyak kalangan muda yang berbondong-bondong masuk ke program pascasarjana master dan doktor, namun kebanyakan dari mereka tidak siap dan menghadapi banyak masalah selama program pascasarjananya. Kabar mengenai masalah dalam program pascasarjana ini kemudian ditafsirkan secara negatif menjadi: studi pascasarjana sains sangat berat dan susah, sehingga akhirnya orang menjadi tidak tertarik untuk menekuni sains. Keadaan akhirnya pada akhirnya merupakan titik keseimbangan antara faktor positif dari antusiasme, promosi, dan undangan untuk menekuni sains, dan faktor negatif karena kurangnya bimbingan saintis senior kepada calon saintis muda tentang situasi sebenarnya dalam menekuni sains. Menurut saya, jika faktor negatif dapat dikurangi dengan meningkatkan bimbingan dan memberikan pandangan yang jujur kepada calon saintis muda tentang menekuni sains, kondisi akhirnya adalah calon saintis muda lebih siap untuk masuk ke dalam program pascasarjana dan menekuni sains. Mereka juga akan menjadi lebih produktif dan efektif selama masa belajar di program pascasarjana, sehingga bisa diharapkan untuk menghasilkan lebih banyak karya sains.

Mungkin ada juga yang sudah membaca namun masih belum yakin atau mengerti, saya akan memberikan beberapa contoh dan analogi untuk membandingkan antara mempelajari sains dan menekuni sains.  Mengenai langkah-langkah persiapan calon saintis muda untuk menekuni sains, dan contoh untuk membandingkan antara mempelajari sains dan menekuni sains, akan dibahas pada bagian selanjutnya dari seri tulisan ini.

Catatan: Tulisan ini diinspirasi dari sebuah artikel opini “The importance of stupidity in scientific research”, yang dapat diambil dari situs dibawah ini

http://jcs.biologists.org/cgi/content/full/121/11/1771

3 comments
  1. san said:

    makasih mas artikelnya…

  2. nia said:

    salam…bapak,mohon bantuannya untuk tambahan referensi tugas saya. apa itu science learning? bila berkenan, mohon dijawab dengan bahasa inggris. terima kasih

  3. pengen masuk CERN juga :O banyak banget anak-anak Indonesia yang berpotensi sebenernya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: